KISAH KECIL KKN-PPM KARIMUNJAWA 2009

batulawang rangers
Diawali dari sebuah semangat kecil teman-temanku, perjuangan untuk menjadikan keinginan ini menjadi nyata, yang kami lakukan dengan perjuangan penuh selama beberapa bulan, sampai akhirnya tak sadar bahwa semua itu telah kami lalui bersama. Itulah perjuangan KKN Karimunjwa 2009 kami. Dan inilah ceritaku, Agung Febrianto, anggota tim KKN UGM Karimunjawa 2009.
AWAL MULA, IDE CERITA…
November 2008, di kampus, seusai kuliah, dan hal biasa yang kami lakukan, ngobrol santai sebelum balik ke kos. Entah jauh kemana ngobrolnya, sampai akhirnya mendengar ada info KKN Tematik ke Karimunjawa. Waktu itu ya kebetulan baru awal semester 5, dan masih belum ada pikiran buat KKN, kan baru semester 6 nanti.
Dari info itu, bukan niatan awalku tertarik KKN, tapi langsung kutergiur ke lokasinya, Karimunjawa,, hehe.. kata orang sich indah tempatnya,. Nah karena memang aku belum pernah ke sana, jadi ya sangatlah penasaran. Dan dari situ, esoknya langsng ku tancap gas ke FISIPOL, ketemu 5 orang inisiator, ngobrol-ngobrol dikit, dan langsung daftarkan diri. Kebetulan waktu itu dari Jurusanku, Teknik Sipi, aku dan temanku satu orang. Biasa lah, karena kelihaianku ngejawab apa mereka tanya, masuk lah dalam tim ini. Hehe..
Dari awal di meja bundar plaza FISIPOL itulah, sampai akhirnya tim penuh 35 mahasiswa dan mahasiswi, kami mulai berjuang tuk segala persiapan. Dan dari situ pula awal kami menjadi sebuah kesatuan tim, sampai akhirnya seperti sekarang yang benar-benar kami rasakan sebuah keluarga..[ ]
AGAK PAHIT,, TAPI SESUNGGUHNYA MANIS..
Awal yang menyenangkan bagi kami ketika kami adakan malam keakraban (makrab), tanpa tujuan lain melainkan tuk buat kami lebih akrab, saling mengenal satu sama lain dan nyaman berkomunikasi. Karena itu modal kami tuk jadi sebuah tim yang solid, berjuang bersama, menyiapkan yang terbaik. Kami pun mulai saling mengenal, saling tahu, dan tentunya mulai berani saling ejek.hahaha…
Hal pertama yang menurut kami merupakan sebuah masalah adalah ketika kabar dari LPPM bahwa tim KKN dibatasi sampai 30 orang saja. Wah,, langsung kami kaget, sampai akhirnya melalui berbagai konflik tim kami susut menjadi 30 orang. Satu konflik awal membuat kami menjadi lebih erat. Sampai-sampai aku ingat benar malam minggu di KPTU Fakultas Teknik, hitam di atas putih dengan materai mengikat kami dalam sebuah perjanjian resmi, “Kami berjanji akan mempersiapkan KKN ini dengan sungguh-sungguh dan dengan segala konsekuensi yang siap kami terima”.
Pertemuan rutin kami adakan tiap Sabtu jam 3 sore. Dengan agenda rapat segala persiapan, mulai dari penyusunan proposal ke LPPM sampai bagaimana cara mendapatkan modal guna menghidupi jalannya KKN. Karena kami tahu, survive di Karimunjawa tidak cukup dengan biaya yang sedikit, terlebih kita akan menjalankan berbagai program KKN yang itupun butuh anggaran.
Banyak sekali cerita seru selama masa persiapan kami, dari mulai timbul benih-benih cinta, perjuangan yang panjang, sampai berbagai konflik kita lalui, ada konflik asmara sendiri, ketidakcocokan karakter individu, masalah loyalitas, semangat yang naik surut, pun sempat kami putus asa. And the first problem is monetary crisis, yap,, sempat kami bingung kemana lagi bisa dapet uang, berbagai instansi telah kami datangi, sampai berita baik itu datang lewat telepon tim kami yang berjuang di Jakarta,
“Kami bisa membiayai semua anggaran program KKN kalian,…”,
“Horee.. teriak kami serontak..”,
Kabar dari kata teman kami saat di Debudpar Jakarta,
“…tapi untuk tahun depan, untuk tahun 2010.”
Yah.. harapan besar yang kami tunggu-tunggu, ini mah bukan berita baik, lebih tepatnya adalah berita yang hampiiir saja menjadi baik. Hhhh…!! Napas keluh serontak kami. Tapi tetep, semangat kami belum habis. Lalu kami berpikir lagi, sampai akhirnya sembari menunggu jawaban dari instansi-instansi sponsor, hampir tiap akhir pekan kami ngamen, jualan donat dan minuman saat UTUL UGM 2009, dan syukur akhirnya Allah memberikan jalan kemudahan bagi kami lewat Program Hibah ESfD yang kami dapatkan sebesar 9,6 juta dan rejeki-rejeki yang lain. Dan dari semua dana yang kami kumpulkan, dengan managemen yang benar-benar rinci, akhirnya kami siap untuk berangkat.
Tak terasa pula dari November 2008 kami kenal, jalan beberapa hari, minggu, dan beberapa bulan sampai akhirnya sudah sampai bulan Juni 2009. Sebuah perjuangan yang panjang, susah, senang, teman baru, keluarga baru, Dan kami siap untuk berangkat mengabdikan diri serta belajar menjadi masyarakat yang berguna di Karimunjawa.[ ]
KARIMUNJAWA, WE’RE COMING..
Waktu telah tiba, saatnya dari masa-masa perjuangan yang telah kami jalani bersama, kami sampai melangkahkan kaki di Karimunjawa. Sebuah kecamatan di Jepara berbentuk kepulauan kecil, jarak tempuh 6 jam kapal ferry Muria dari pelabuhan perintis kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Merupakan salah satu tujuan pariwisata alam, terutama wisata alam laut dan pantainya, pun merupakan potensi besar bagi kepariwisataan Indonesia. Itu pula yang mendasari tema besar KKN kami, Pemberdayaan Potensi Pariwisata Berbasis Lingkungan Melalui Pola Partisipasi Masyarakat. Dan misi besar kami adalah membantu pemerataan kegiatan pariwisata di Karimunjawa, khususnya bagi daerah yang masih belum bisa mengelola kegiatan pariwisata secara mandiri.
Aku, dipercayakan sebagai kormasit (koordinator mahasiswa sub-unit) di dusun Batulawang. Satu dusun kecil di desa Kemujan yang dikelilingi laut di ujung paling utara Karimunjawa, dengan jarak tempuh 28 KM jalan aspal berliku dari pusat kecamatan. Dan kami tim di batulawang menamakan diri dengan “Rangers”. 10 anggota yaitu: Decho Iid Putra, Merike Ihsana, Nailatul Authary, Argy Nugraha, Kartika Dyah Paluphi, Hendro Prabowo, Annisa Nia Ramadhin, Alif Nurrohman, Fumma Padmaputra, dan terakhir aku sendiri. Dan inilah kelompok mahasiswa yang berjuang bersama dalam satu atap, tidur bersama, makan bersama, mandi pun bersama di sumur. Eiitt, jangan mikir jorok dulu nie, khusus buat para kaum pria.hehe.. Kamilah warga baru dusun Batulawang.
Satu hal yang membuat Batulawang beda dari yang lain, merupakan sebuah dusun kecil dengan tinggal empat suku adat berbeda, hidup harmonis, merekalah suku Jawa, Madura, Mandar, dan Bugis. Suku Bugis inilah yang paling banyak dan merupakan suku yang dominan, masih banyak ditemukan rumah panggung khas Bugis, sampai-sampai bahasa ibu yang digunakan bagi semua warganya adalah bahasa Bugis. Sisi menarik dari dusun ini adalah nilai budaya yang khas kolaborasi dari berbagai suku tersebut dengan suasana Islam yang kental. Mayoritas mata pencaharian warga sendiri adalah sebagai petani rumput laut dan nelayan.[ ]
BATULAWANG,, KELUARGA BARU..
“Tangi Dab… Tangi Dab…” , kata-kata yang biasa kami ucapkan tiap bangun pagi. silahkan baca selengkapnya disini
Recent Comments